Penyakit Musiman Menyerang Santri

Benda- penyakit musiman berupa cacar menyerang puluhan santri (30/1). ini menyebabkan puluhan santri mendapatkan izin dengan mudah , bukan di karenakan libur melainkan sebab penyakit cacar yang terus menular dari satu santri ke santri yang lain, dari satu bilik ke bilik yang lain. penyakit ini memang divonis akan di alami oleh seseorang dalam seumur hidup satu kali. penyakit cacar menyebabkan infeksi pada kulit yang meninggalkan bekas jika si penderita sudah sembuh. penyakit ini di alami 1-2 minggu, rasanya panas dan gatal. ternyata tak hanya santri yang sedang musim penyakit cacar melainkan warga juga banyak yang terkena penyakit tersebut. “memang sedang musim cacar, karena udaranya sedang tidak baik” ujar salah satu dokter di rumah sakit yang beralokasikan di bumiayu.

PMI Adakan Donor Darah di Aliyah

Malhikdua- PMI (Palang Merah Indonesia) adakan program donor darah di malhikdua school(11/01). program ini hanya bisa di ikuti oleh siswa yang berusia 17 tahun keatas. sebelum transaksi melakukan darah mereka harus di periksa kekebalan tubuhnya terlebih dahulu. tidak semua siswa di perbolehkan mendonorkan darah, petugas juga harus memilah dan memilih dengan baik. setelah mereka dinyatakan sehat petugas langsung mengambil darah mereka melalui selang kecil yang langsung di salurkan ke kantung darah. proses tersebut berlangsung sangat singkat. seusai pengambilan darah petugas memberikan minuman berupa susu agar tenaga sang pendonor kembali pulih. kegiatan donor darah ini rutin di lakukan setiap satu tahun sekali. donor darah juga bertujuan agar kita belajar lebih ikhlas dan menumbuhkan rasa kemanusian pada penerus bangsa kita.

Fasilitas Penambah Wawasan Siswa

MALHIKDUA – peresmian warnet sekolah MA AL HIKMAH 02(13/01). siang tadi peresmian warnet sekolah yang di pimpin oleh pak sulkhi selaku penanggung jawab. harapan sang guru agar siswa siswi malhikdua lebih berkreasi tidak hanya berkutat dengan kitab, buku dll. namun agar mereka lebih mengerti berita dan informasi terbaru yang berada di luar lingkungan pondok pesantren al hikmah 02. ini juga sarana agar siswa bisa lebih cerdas dalam memahami pelajaran dan dengan mudah dapat berinteraksi social dengan orang lain yang pastinya jauh lebih rumit.

MENDADAK MATI LAMPU DI KALA TEST SEMESTER BERLANGSUNG

BENDA – siswa ilmu alat/ madin yang sedang berada di gedung – gedung mendadak ribut ketika lampu seketika mati selasa, 20:00(4/1). mereka semua bingung bagaimana harus mengerjakan soal semester. sedangkan guru mereka meminta untuk segera mengumpulkan lembar jawab. di lain sisi mereka sadar bahwa mereka baru mengerjakan beberapa soal. alat penerang yang tak kunjung datang membuat siwa semakin ribut, akhirnya banyak dari mereka yang pasrah dengan jawaban yang sedikit, namun mereka yakin bahwa guru mereka pasti lebih mengerti. karena memang ini semua tidak di sebabkan karena panitia atau yang lain. melainkan karena memang mati lampu dari pusatnya.

SI KECIL, AISHA

Sastro terbaring di atas ranjang berbalut seprai putih sambil bersenandung. Cucu perempuannya tampak membaringkan kepalanya di sisi kakeknya ikut menikmati nyanyiannya walaupun gadis kecil itu jelas tidak mengenal lagunya. Sekali lagi, si cucu menyodorkan sebuah Juz Amma untuk kakeknya. Sastro hanya tersenyum, tahu akan apa yang bakal dikatakan cucunya.

\”Ayo kek, Aisha ajarin baca Al-Fatihah ya    …  …  …  … … pintanya polos dengan mata berharap.

\”lagi? Kemarin kan sudah    …  …  …  … …    …  …  …  … … elak Sastro dengan nada bercanda, walau suaranya terdengar parau, akibat tubuhnya yang kian melemah.

\”kemarin kan kakek belum selesai bacanya    …  …  …  … … protes Aisha sebal.

\”kakek ngantuk Aisha, kakek kan sakit    …  …  …  … … elak Sastro lagi kemudian langsung membalikkan tubuhnya pura-pura mendengkur.

Aisha tidak melanjutkan protesnya, dia percaya kakeknya benar-benar tidur. Gadis kecil itu berjinjit untuk mencium kening kakeknya dengan sayang.

\”maafin Aisha ya udah ganggu kakek, met bobo    …  …  …  … … Sastro tetap pura-pura tidur.

Sebenarnya Sastro sudah sejak lama hafal Al-Fatihah, bahkan hampir seluruh isi Al-Quran dia hapal. Bukankah dulunya dia seorang guru ngaji sebelum masuk tentara? Sastro serta merta teringat peristiwa lalu, kejadian pahit yang telah merubah hidupnya.

Aceh, 1953.

Peristiwa DI/TII, dimana sekelompok ekstrimis sedang memperjuangkan terwujudnya Indonesia sebagai negara Islam. Cuaca ketika itu mendung dengan angin berhembus kencang. Tampak para pejuang kedaulatan Indonesia sedang berpatroli di sekitar barak mereka yang sederhana.

Pakaian mereka tampak lusuh bersaput debu mesiu serta darah yang mengering. Janggut dan rambut juga dibiarkan tumbuh tanpa dicukur. Sastro ketika itu berpangkat letnan, sepuluh orang tentara muda menjadi tanggung jawabnya. Bedil senantiasa di tangan dan mata selalu awas berjaga.

\”sudah enam hari    …  …  …  … … kata rekannya yang bernama Basri sambil memainkan pisau.

\”kau rindu dengan istrimu?    …  …  …  … … ledek Sastro.

\”ngaco kamu, aku hanya kangen merokok, mulutku sepat rasanya    …  …  …  … … elak Basri.

\”di belantara begini mana ada yang menjual rokok    …  …  …  … … tanggap Sastro terkekeh.

\”aku ingin mencari di rimbunan semak sana. Pasti ada pohon tembakau walaupun cuma sebatang    …  …  …  … … kata Basri menunjuk sekumpulan tanaman lebat tak tertembus cahaya.

\”tapi lumayan jauh dari perkemahan kita, berbahaya kalau kamu pergi sendiri    …  …  …  … … cegah Sastro yang ditanggapi Basri dengan tawa.

\”sudah berapa tahun kau jadi tentara? tahukah kau berapa kali peluru nyaris membunuhku? Bah! Takdir di tangan Allah! Sudahlah kalau kau begitu khawatir kau ikut saja denganku    …  …  …  … … sahut Basri.

Sastro memandang kawan-kawannya yang tampak berjaga. Terbesit perasaan ragu dalam dirinya. Memang bukan sekali ini dia ikut berperang. entah berapa kali dia nyaris mati dalam perjuangannya. Tapi kali ini entah mengapa hatinya terasa berat sekali untuk mengikuti Basri.

\”kau mau ikut tidak?    …  …  …  … … Tanya Basri lagi. Dia akhirnya memutuskan untuk ikut. Sastro tahu Basri keras kepala, kalau sahabatnya mati, Sastro tidak akan pernah memaafkan dirinya. Siapa tahu para pemberontak itu akan membunuh Basri ketika dia sendirian.

Benar kata basri, beberapa batang pohon tembakau tampak tumbuh tegar di sana. Basri mengincar daun-daun yang sudah mengering, agar bisa langsung dilinting untuk dibakar.

\”ah nikmatnya    …  …  …  … … Basri menghela kepulan asap racun keluar dari paru-parunya. Baru saja mereka berpikir untuk kembali ke barak. Tiba-tiba terdengar samar suatu letusan senjata. Pertanda markas mereka tengah diserang.

\”Bedebah!    …  …  …  … … maki Basri sambil melemparkan lintingan tembakau yang susah payah dia dapatkan. Sastro gemetar karena firasatnya terbukti. Teman-temannya dalam bahaya.

Dan ketika mereka kembali ke tenda semua sudah terlambat. Sastro meraung murka karena para musuhnya berhasil kabur. Gerilyawan pemberontak itu juga meninggalkan tanda mata untuk Sastro dan tentara lain yang tersisa. Kepala-kepala tanpa tubuh, ditancapkan pada ruas-ruas bambu menghiasi tenda mereka.

\”mereka datang dengan pasukan yang tiga kali lipat lebih banyak dari kita    …  …  …  … … seorang anak buahnya menyeret tubuhnya yang terluka untuk melaporkan kejadian tadi kepada atasannya.

Sastro memeluk tubuh-tubuh tak bernyawa itu dengan air mata berlinang. Sementara Basri dan prajurit lain yang tersisa mencoba menenangkannya.

\”Ini perang Sastro    …  …  …  … …    …  …  …  … … Rintih Basri.

\”tidak hanya kita yang kehilangan, mereka juga    …  …  …  … …    …  …  …  … … tambah yang lain walau semua itu tidak berpengaruh bagi Sastro.

Sastro mengelilingi perkemahan, menyaksikan mimpi buruk yang paling dihindarinya. Mayat-mayat bergelimpangan, kepala terpenggal, usus berhamburan.

Sastro tidak habis pikir. Mereka Islam, tapi mereka tersesat terlampau jauh. Sebagai mantan guru ngaji dia sangat mengerti aturan peperangan. kalau mereka memang memahami kitab suci mereka tidak mungkin berani menyiksa musuhnya sedemikian rupa. Mereka seharusnya tahu kalau jiwa mereka yang membunuh di peperangan karena amarah dan nafsu tidak akan diterima di surga. Sastro gelap mata. Pikirannya tertutup amarah.

\”aku tidak mau Sholat lagi! Aku tidak mau disamakan seperti mereka!    …  …  …  … … Teriaknya berulang-ulang.

\”Astaghfirullah Sastro..Istighfar    …  …  …  … … ujar Basri untuk menenangkannya. Tapi otak Sastro sudah lebih dulu tersaput dendam.

Jakarta, 1999.

Sastro meneteskan air mata. Dia kini sudah menjadi kakek renta yang sedang menunggu ajal. Tubuh yang dulunya tegap berisi kini tinggal tulang berbalut kulit. dia takut mati. Dosanya terlampau besar. Dia malu terhadap sang pencipta.

Salah seorang anaknya mendekati ranjang. Dialah ibu dari Aisha. Gadis kecil yang tidak pernah jera meminta kakeknya mengaji.

\”pak    …  …  …  … …    …  …  …  … … putrinya memandangnya lekat-lekat, ingin memulai pembicaraan. Tampak matanya sembab seperti habis menangis.

\”dokter bilang umur bapak tidak lama lagi kan?    …  …  …  … … tebak Sastro. Putrinya menggeleng lemah.

\”dokter tidak bilang begitu, dia hanya bilang kalau bapak sakit parah dan sulit diobati    …  …  …  … …

\”itu sama saja    …  …  …  … … tanggap Sastro sambil tersenyum pahit. Kepalanya tiba-tiba pening. Pandangan matanya mengabur seakan ada ribuan kunang-kunang mengitari dirinya. dia lalu mengenang hidupnya yang tidak pernah membosankan.

Selama sisa hidupnya sastro dikenal sebagai orang yang baik. Dia tidak pernah mabuk-mabukan. Dia tidak pernah main perempuan. Dia selalu berkurban setiap Idul Adha. Dan Entah sudah berapa Mushola di Jakarta yang terus berdiri dan kokoh berkat sumbangan darinya.

Satu yang Sastro sesali adalah dia tidak pernah Sholat. Rasa ego dan janji bodohnya di masa lalu yang menyatakan tidak mau lagi menginjak sajadah membuatnya malu terhadap Sang Pencipta. Dia takut ibadahnya tidak diterima. Kini dia bahkan hampir lupa bagaimana caranya Sholat.

\”pak    …  …  …  … …    …  …  …  … … sapa putrinya yang segera membuyarkan lamunannya.

\”bapak belajar Sholat ya?    …  …  …  … … lanjut putrinya. Sastro cukup terkejut, karena selama ini putrinya seakan tidak pernah mempermasalahkan keislamannya. Sastro diam saja.

\”bapak sudah tahu dari dulu kan kalau mereka yang membunuh anak buah bapak secara sadis waktu perang dulu, sebenarnya adalah orang-orang yang tidak paham sama agamanya sendiri?    …  …  …  … … Sastro terbatuk, dia terkejut.

\”kamu kok tahu nak?    …  …  …  … … Tanya Sastro. Putrinya hanya tersenyum menenangkan.

\”beberapa tahun lalu pak Basri pernah cerita sama Lala, bapak jangan terus mendendam. Bapak jangan terpengaruh sama masa lalu. Percayai hati nurani bapak saja    …  …  …  … …    …  …  …  … … ujar Lala putrinya sabar. Sastro kembali membisu selama beberapa detik.

\”Bapak malu nak    …  …  …  … …    …  …  …  … … kata sastro akhirnya. Sebelum Lala sempat menanggapi. Pintu kamar Sastro terbuka. Dan masuklah Aisha, gadis kecil yang terus meneror Sastro selama beberapa tahun ini.

\”eh kakek udah bangun, sini Aisha ajarin baca Al-fatihah    …  …  …  … … Sastro merasa kehangatan tiba-tiba merayap di tubuhnya.

\”boleh, tapi ajarinnya pelan-pelan ya    …  …  …  … … Sastro berharap, ketika ajalnya menjemput. Dia bisa pergi dengan perasaan bangga.

ANDAI AL QURAN BISA BERBICARA

Waktu engkau masih kanak-kanak, kau laksana kawan sejatiku
Dengan wudu\’ aku kau sentuh dalam keadaan suci
Aku kau pegang, kau junjung dan kau pelajari
Aku engkau baca dengan suara lirih ataupun keras setiap hari
Setelah usai engkaupun selalu menciumku mesra

Sekarang engkau telah dewasa    …  …  …  … …
Nampaknya kau sudah tak berminat lagi padaku    …  …  …  … …
Apakah aku bacaan usang yang tinggal sejarah    …  …  …  … …
Menurutmu barangkali aku bacaan yang tidak menambah pengetahuanmu

Atau menurutmu aku hanya untuk anak kecil yang belajar mengaji saja?

Sekarang aku engkau simpan rapi sekali hingga kadang engkau lupa dimana menyimpannya

Aku sudah engkau anggap hanya sebagai perhiasan rumahmu
Kadangkala aku dijadikan mas kawin agar engkau dianggap bertaqwa

Atau aku kau buat penangkal untuk menakuti hantu dan syetan

Kini aku lebih banyak tersingkir, dibiarkan dalam kesendirian dalam kesepian

Di atas lemari, di dalam laci, aku engkau pendamkan.
Dulu    …  …  …  … …pagi-pagi    …  …  …  … …surah-surah yang ada padaku engkau baca beberapa halaman
Sore harinya aku kau baca beramai-ramai bersama temanmu di surau    …  …  …  … …..
Sekarang    …  …  …  … … pagi-pagi sambil minum kopi    …  …  …  … …engkau baca Koran pagi atau nonton berita TV
Waktu senggang..engkau sempatkan membaca buku karangan manusia

Sedangkan aku yang berisi ayat-ayat yang datang dari Allah Yang Maha Perkasa.
Engkau campakkan, engkau abaikan dan engkau lupakan    …  …  …  … …
Waktu berangkat kerjapun kadang engkau lupa baca pembuka surahku (Basmalah)
Diperjalanan engkau lebih asyik menikmati musik duniawi
Tidak ada kaset yang berisi ayat Alloh yang terdapat padaku di laci mobilmu
Sepanjang perjalanan radiomu selalu tertuju ke stasiun radio favoritmu
Aku tahu kalau itu bukan Stasiun Radio yang senantiasa melantunkan ayatku
Di meja kerjamu tidak ada aku untuk kau baca sebelum kau mulai kerja
Di Komputermu pun kau putar musik favoritmu
Jarang sekali engkau putar ayat-ayatku melantun
E-mail temanmu yang ada ayat-ayatkupun kadang kau abaikan
Engkau terlalu sibuk dengan urusan duniamu
Benarlah dugaanku bahwa engkau kini sudah benar-benar melupakanku
Bila malam tiba engkau tahan nongkrong berjam-jam di depan TV
Menonton pertandingan Liga Italia , musik atau Film dan Sinetron laga
Di depan komputer berjam-jam engkau betah duduk
Hanya sekedar membaca berita murahan dan gambar sampah
Waktupun cepat berlalu    …  …  …  … …aku menjadi semakin kusam dalam lemari
Mengumpul debu dilapisi abu dan mungkin dimakan kutu
Seingatku hanya awal Ramadhan engkau membacaku kembali
Itupun hanya beberapa lembar dariku
Dengan suara dan lafadz yang tidak semerdu dulu
Engkaupun kini terbata-bata dan kurang lancar lagi setiap membacaku.
Apakah Koran, TV, radio , komputer, dapat memberimu pertolongan ? Bila
engkau di kubur sendirian menunggu sampai kiamat tiba Engkau akan
diperiksa oleh para malaikat suruhanNya

Hanya dengan ayat-ayat Allah yang ada padaku engkau dapat selamat melaluinya.
Sekarang engkau begitu enteng membuang waktumu    …  …  …  … …
Setiap saat berlalu    …  …  …  … …kuranglah jatah umurmu    …  …  …  … …
Dan akhirnya kubur sentiasa menunggu kedatanganmu..
Engkau bisa kembali kepada Tuhanmu sewaktu-waktu
Apabila malaikat maut mengetuk pintu rumahmu.
Bila aku engkau baca selalu dan engkau hayati    …  …  …  … …
Di kuburmu nanti    …  …  …  … ….
Aku akan datang sebagai pemuda gagah nan tampan
Yang akan membantu engkau membela diri
Bukan koran yang engkau baca yang akan membantumu Dari perjalanan di alam akhirat
Tapi Akulah \”Qur\’an    …  …  …  … … kitab sucimu
Yang senantiasa setia menemani dan melindungimu
Peganglah aku lagi . .. bacalah kembali aku setiap hari
Karena ayat-ayat yang ada padaku adalah ayat suci
Yang berasal dari Alloh, Tuhan Yang Maha Mengetahui

Yang disampaikan oleh Jibril kepada Muhammad Rasulullah.
Keluarkanlah segera aku dari lemari atau lacimu    …  …  …  … …
Jangan lupa bawa kaset yang ada ayatku dalam laci mobilmu
Letakkan aku selalu di depan meja kerjamu
Agar engkau senantiasa mengingat Tuhanmu
Sentuhilah aku kembali    …  …  …  … …
Baca dan pelajari lagi aku    …  …  …  … ….
Setiap datangnya pagi dan sore hari
Seperti dulu    …  …  …  … ….dulu sekali    …  …  …  … …
Waktu engkau masih kecil , lugu dan polos    …  …  …  … …
Di surau kecil kampungmu yang damai
Jangan aku engkau biarkan sendiri    …  …  …  … ….
Dalam bisu dan sepi    …  …  …  … ….
Mahabenar Allah, yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

WAWANCARA BERSAMA KETUA PANITIA CLASS MEETING

ketua panitia class meeting kita tahun ini (2010/2011) bernama M. Aulia Fahmi akrab dipanggil Fahmi. siswa XI Emecy ini punya cita – cita menjadi dokter klinik gratis. Cowok kelahiran pekalongan, 13 januari 1994 ini berpengalaman dalam organisasi sebagai ketua osis mts al hikmah 02, pengurus bagian pendidikan orda itmamusyarqi dan osis bagian pendidikandi madrasah aliyah al hikmah 02. orang asal kota batik ini sebelumnya bersekolah dasar di MIS Sidorejo.

Apa yang di maksud dengan class meeting?

Class meeting adalah ajang perlombaan antar class yang bertujuan untuk menemukan bakat – bakat siswa aliyah.

bagaimana jika ada anak yang merasa tidak bisa mengembangkan bakat mereka, karena mereka tidak di pilih untuk mewakili kelasnya?

mungkin untuk class meeting tahun ini kami kurang memperhatikan anak – anak yang mengikuti lomba. doakan saja untuk class meeting selanjutnya berjalan lebih lancar dan ini juga bisa di jadikan pelajaran untuk lain kali.

kapan saja class meeting di adakan?

liburan semester, liburan yang memungkinkan untuk diadakan class meeting dan juga melihat situasi pondok.

kapan lahirnya class meeting?

saya kurang tau, pokoknya sejak saya masuk mts class meeting di aliyah sudah ada.

mengapa harus ada class meeting?

harus, di karenakan class meeting sudah menjadi budaya yang mendarah daging di kawasan ponpes al hikmah 02 ini, terutama di malhikdua.

bagaimana persiapan awal class meeting?

1. rapat antar anggota.

2. menentukan sc

3. mencari dana

berapa dana yang terkumpul?

dana tersebut di dapatkan dari kasir dan kantor berjumlah Rp 600.000,00, sedangkan dana dari osis sendiri total Rp 400.000,00

apa saja kendala – kendala selama class meeting berlangsung?

untuk tahun ini saya rasa banyak sekali kendala. awalnya semua acara sudah tersusun rapi. untuk pembukaan masih lancar namun ketika hari kedua kami pusing tujuh keliling di karenakan harus merombak jadwal yang sudah ada sebab pondok mengadakan pasaran sehabis dzuhur.

mengapa harus ada lomba formal?

agar tidak susah mencari bibit – bibit unggul dan juga ketika sekolah membutuhkan siswa yang berprestasi di bidang formal contohnya speech. kami bisa membantu dengan mudah.

lomba apa yang paling ribet mengurusnya?

lomba badminton (pa 4 hari) sdangkan (pi 2 hari)

lomba apa yang paling banyak audiennya?

menurut saya lomba musik dapur putra.

mengapa ketika beberapa kelas tidak ada perwakilannya, panitia tidak menekankan?

ini di karena kelalaian kami, semoga class meeting selanjutnya kami bisa lebih disiplin.

kelas mana yang menjadi juara umumnya?

1B MAK

kapan pembagian hadiahnya?

2 Januari 2011

bagaimana rasanya menjadi ketua class meeting?

pusing, tapi tidak terlalu kaget di karenakan sebelumnya pernah menjadi ketua claas meeting di mts al hikmah 02.