satu tahun sudah ku lewati pedih lara dan luka yang amat membara ini. ku awali segalanya dengan senyuman, wALau badai selalu datang menghadang. berawal dengan sebuah poster yang berisi menerima karya siswa hingga akhirnya merangkak menjadi sebuah reporter. sudah tak terhitung lagi berapa tangisan yang keluar begitu saja. sudah tak terhitung lagi berapa pengorbanan demi melawan semuanya demi memperjuangkan sebuah organisasi yang hampir saja mau di bubarkan. padahal belum setahun organisasi ini berdiri. kehilangan orang yang beberapa waktu lalu selalu membantu sebagai ketua sekaligus guru bahasa indonesiaku. kini dia pergi entah kemana hanya karena sebuah kesalah pahaman yang belum pernah di luruskan oleh siapapun termasuk olehku. rasa rindu ini benar – benar sangat membara, kemanakah beliau?? sosok cantik yang menjadi dambaan banyak siswa malhikdua ini. di manakah beliau? yang selalu tegas dalam segala hal. aku benar – benar kehilangannya.

sebut saja paman, saat ini aku merasa kehilangan sosok dia yang biasanya selalu bisa mengendalikan suasana. kemanakah beliau yang dulu? beliau yang sellau menyemangati kita, memahami kita. tapi saat ini semuanya berbalik. beliau benar – benar berubah. ada apa? apa karena hilangnya seseorang yang sangat dia banggakan di sini? aku rindu sosok beliau yang selalu menjadi ayah yang patut di banggakan, ayah yang tak pernah menyerah dan selalu memahami anak – anaknya. ayah yang selalu mencoba untuk menaungi anak- anaknya walaupun jauh di sana. mana kini sosok ayah tersebut? apa karena kami tak bisa melakuakn yang terbaik untuk beliau? apa karena kami selalu slah dalam melangkah? jika iya maafkanlah.

kini aku kembali kehilangan kakak kelasku. mungkin kebanyakan mereka sibuk dengan ribuan organisasi atau hal lain yang membuat mereka tak mampu lagi mampir ke redaksi ataupun hanya menyapa salah satu di antara kami. aku rindu – rindu dengan semua itu. kapan semua bisa berkumpul kembali? bercan da ria bersama dalam sebuah perkumpulan yang walau terkadang berujung derita pada salah satu anggota.

setelah melewati ribuan batu aral yang melintas akhirnya ku temukan sebuah kekeluargaan yang abadi. walau akhirnya akan sibuk dengan segala aktivitasnya. tapi aku yakin mereka pasti ingat dengan semua yang pernah terlewati. namun, apakah kalain juga merasakan hal yang sama seperti yang ku rasakan? atau ini hanya perasaan diriku saja?

kemanakah orang yang dulu selalu menyemangatiku? kemanakah mereka? apa mungkin karena aku memang sudah tidak di perlukan lagi? apa aku harus mundur? aku benar – benar bingung. melangkah salah, diam salah dan kembalipun salah. lalu apa yang harus ku lakukan di saat seperti ini?

mungkin ini saatnya aku mundur dan kembali menjadi siswa biasa? aku memang tak selayaknya berada di sini. aku bukan mba damae yang selalu perfect. aku bukan oob, falah, sufyan atau sela yang bisa mengemban amanah. aku icha yang tak bisa melakukan hal apa- apa. menulispun masih berantakan. aku malu pada kalian.

 

Facebook Comments