Awalnya aku merasa asing saat beberapa temanย  temanku yang kerap kali bertemu denganku selalu menyapaku dan berkata \”Hadiah Terindah Untukku. Bingung campur penasaran apa maksudnya ya? Setelah aku sampai kamar beberapa temanku menjawab salamku dengan hangat dan lengkap \”wa\’alaikumsalam Annisa Ayu Intan Fitriani di ikuti dengan cengiran dan senyuman senyuman kecil dari mereka. Waduh, ada pa nich tanyaku dalam batin.

Tiba-tiba \”ciye.. ciye cerpennya masuk ke El Waha tau… bare lah (mau donk) kata teman tetangga lemariku.

\”apaan sih maksudnya aku gak paham nich? Akukan gak pernah ngirimin cerpen ke El Waha kataku kebingungan.

\”ini lho cha, yang judulnya Terindah Untukku\’ kata temanku sambil menunjukkan majalah El Waha yang tepat berada pada halaman cerpen.

\”hah.. itukan cerpen sudah lama banget. Kalo ndak salah waktu aku pertama kali masuk Gepa (Gerbang Pena Al Hikmah)\”owh.. tapi bagus kok cha Comment temanku.

\”Tapi setahuku dulu judulnya Terindah Untuk Hana\’ deh. Mungkin dah di edit kali ya?\”mungkin jawab temanku singkat.

Sebenernya aku radan sedikit kesal karena mereka (Tim Redaksi) El Waha tidak memberi persetujuan terlebih dahulu kepada diriku walaupun cerpen tersebut tetap ada namanya. Tapi di lain sisi hati ini ikut bangga juga akhirnya ada sebuah majalah yang mau menerbitkan cerpenku ini. Walau tanpa bayaran sedikitpun, tapi hati ini tetap bangga. Berbeda dengan saat aku masuk ke dalam sebuah organisasi yang isinya selalu menuntut dan serba perfeksionis, tak pernah memikirkan perasaan atau yang lainnya.

Singkat cerita aku lebih bangga lagi saat tulisan ku di baca oleh semua orang. Ini membuatku benar benar ingin sekali menjadi penulis. Namun, konflik yang beberapa pekan ku lalui membuat diriku takut alias trauma. Sebenernya aku sebagai seorang penulis merasa ingin sekali ikut masuk ke dalam tim Redaksi El Waha namun takut akan beberapa konflik yang terjadi sehingga aku urungkan semua niat tersebut. Ku biarkan kekuatan penulisku diam. Aku bingung, jika terus tetap menjadi reporter sekolah aku merasa tak pernah ada yang baik atau pantas jika aku melakukan sesuatu. Beda halnya dengan reporter el waha atau alhikmahdua.net di sana mereka merasa di hargai dan menjadi semangat karena semua pihak ataupun hardwarenya sangat membantu.

Di tambah lagi banyaknya dukungan dari pihak pondok. Ini semua benar benar menggiurkan diriku yang sedang benar benar ingin menulis tanpa ada kekacauan.

Eits, sampai lupa. Tadi tepat pukul 08:30 aku mendapatkan panggilan dari kantor pondok. Aku kira aku tak dapat pulang karena belum membayar du pondok. Tapi ternyata.. tak terduga.. wow… its Amazing! Aku mendapatkan sebuah plastik putih yang isinya jajanan dan majalah El Waha. Hati ini benar benar merasa di hargai amat sangat. Pokoknya makasih banyak banget buat Tim Redaksi El Waha yang sudah memperkenankan cerpenku masuk di majalah. Dan terimakasih atas bingkisannya yang bisa membuat ortuku bangga padaku. Semoga ini adalah awal perjalanan indahku shobat.. semoga Allah membukakan aku jalan yang benar. Aku benar benar ingin menjadi seorang penulis bukan seorang penahan rasa sakit.

aku harap di bulan Ramadhan ini semuanya menjadi lebih baik. semoga Allah secepatnya meberikan jalan yang terbaik untuk hambanya yang satu ini. teringat akan dua pilihan Badan kehormatan m2net.. go out quickly or tetap di m2net asal jangan seperti yang kemarin…. sungguh semuany menyakitkan.. sdh cukup aku disakiti olehnya saat di ambang kelulusannya kini malah menambah goresan luka itu lagi. S.A.K.I.T.

 

Facebook Comments